Mengapa Meneliti Apa yang Sudah Diteliti Orang Lain?
Kajian literatur merupakan hal penting dalam penelitian untuk membantu peneliti menyadari posisi penelitiannya.
Dengan mengamati penelitian terdahulu, peneliti dapat mendapat informasi berbagai hal seperti sejauh mana penelitian yang sudah dikerjakan, apa yang belum diteliti, atau bagaimana tren penelitian yang sedang terjadi.
Kita dapat melakukan pencarian literatur dengan cara menyaring artikel, mengelompokkan temuan, mengidentifikasi pola, dan mencari research gap.
Namun, ada paradoks di sini.
Untuk menemukan sesuatu yang belum diteliti, kita harus memulai dari apa yang sudah diteliti. Masalahnya, apa yang sudah diteliti sangat bergantung pada artikel yang berhasil kita temukan.
Pencarian di satu database bisa jadi menghasilkan atau tidak menghasilkan temuan penelitian terdahulu yang relevan.
Jika ini terjadi, pada dasarnya pencarian kita dibatasi oleh penelitian-penelitian yang terindeks di database tertentu dan terjaring oleh strategi pencarian kita.
Di sisi lain, penelitian yang relevan mungkin diterbitkan di database lain, direkam dalam format yang lain, disimpan di sumber lain, ditulis dalam bahasa lain, atau menggunakan istilah yang berbeda dengan yang kita cari.
Paradoks lain yang menarik untuk dipikirkan adalah saat kita mencari kebaruan, kita akan terhambat oleh hasil riset yang belum diteliti orang lain.
Dengan kata lain, kita tidak bisa meneliti sesuatu yang belum pernah diteliti oleh orang lain.
Ini membawa implikasi jika semua penelitian harus berangkat dari research gap yang teridentifikasi dalam penelitian terdahulu, bagaimana kita memulai penelitian tentang fenomena yang benar-benar baru?
Ketika suatu fenomena belum pernah diteliti, tentu belum ada kumpulan artikel yang bisa kita sintesis untuk menunjukkan celahnya.
Pertanyaan yang ironis muncul: apakah kita baru bisa meneliti suatu topik setelah orang lain lebih dahulu menelitinya?
Tidak salah bagi peneliti untuk melakukan tinjauan literatur. Namun yang perlu disadari adalah saat kajian literatur harus menjadi desain penelitian tersendiri agar penelitian dianggap memiliki kebaruan.
Jika pertanyaan penelitian dapat dijawab dengan data empiris, mengapa tidak langsung menguji pertanyaan tersebut?
Jika masalahnya adalah perbedaan hasil penelitian terdahulu, mengapa tidak menguji penjelasan atas perbedaan tersebut?
Jika kita menduga bahwa temuan sebelumnya tidak berlaku pada konteks tertentu, mengapa tidak mengujinya dengan data yang sesuai?
Di sinilah peran peneliti. Menguji dan meneliti, tanpa harus menunggu orang lain menguji dan meneliti baru kemudian mensintesis hasilnya (TS).
