Kemiskinan Ekstrem Nyaris Nol tapi Standar Hidup masih Tetap Rendah
Gubernur Jawa Timur menyatakan tingkat kemiskinan ekstrem Provinsi Jawa Timur pada 2025 tercatat sebesar 0,29 persen (Antaranews, 12/10).
Kebijakan atas kondisi kemiskinan ini seharusnya tidak hanya berhenti pada pengamatan atas angka kemiskinan ekstrem namun pada upaya meningkatkan standar hidup masyarakat.
Kemiskinan ekstrem didefinisikan Bank Dunia sebagai kondisi hidup dengan pendapatan kurang dari $3 per hari. Ambang batas ini, yang dikenal sebagai “Garis Kemiskinan Internasional”. Angka ini membantu kita dapat membandingkan kondisi tingkat kemiskinan antar negara.
Sebagai contoh, Pakistan, India, Tiongkok, dan Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam proporsi penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem dari tahun 1977 hingga 2025 (Gambar 1).
Sebagai contoh, seseorang di Amerika Serikat dianggap miskin jika mereka memiliki penghasilan kurang dari sekitar $27,10 per hari, sementara di negara-negara di Afrika, misalnya Ethiopia, garis kemiskinan ditetapkan lebih dari 10 kali lebih rendah, yaitu $2,59 per hari.
Kita dapat melakukan pengamatan dengan membagi pendapatan menjadi 10 bagian sama besar dan melihat pendapatan yang diterima oleh kelompok terbawah (termiskin) (Gambar 3).
Gambar 3 menunjukkan meski keempat negara telah berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem, masih terdapat perbedaan standar hidup antar negara, yang ditandai dengan nominal pendapatan yang berbeda-beda yang diterima oleh kelas yang sama (kelas terbawah).
Pada tahun 2025, kelompok terbawah (termiskin) di Pakistan menerima $70 per bulan (data 2024), Indonesia dan India mendapat kurang lebih sama yakni, masing-masing, $112 dan $114 (data 2023). Sementara Tiongkok mendapat $190 (data 2022).
Maka, secara komparasi antar negara, keberhasilan satu negara mengatasi kemiskinan ekstrem bisa jadi merupakan tahap awal yang sudah dicapai oleh negara lain yang sudah bisa mencapai standar hidup yang lebih tinggi (TS).
Sumber:
https://jatim.antaranews.com/berita/1106040/gubernur-khofifah-targetkan-kemiskinan-ekstrem-jatim-turun-hingga-nol-persen


