Desil: Memahami Posisi Relatif dalam Data Sosial Ekonomi
Rencana pemerintah melarang pembelian bahan bakar Pertalite bagi masyarakat yang berada di Desil 9 dan 10 memunculkan kontroversi di tengah masyarakat mengenai status desil mereka. Masyarakat yang mengecek status desilnya secara mandiri justru memunculkan keluhan baru mengenai hasil desil.
Ada warga yang mengaku tinggal di rumah kontrakan, memiliki kendaraan bekas, bahkan tidak mempunyai penghasilan sendiri, tetapi tercatat dalam Desil 9 atau Desil 10. Sementara warga lain yang masih mengontrak dengan penghasilan pasangan sekitar Rp3 juta per bulan, tetapi tercatat dalam Desil 10.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mempertanyakan apakah Desil 9 dan Desil 10 memang menunjukkan bahwa seseorang tergolong kaya sehingga harus dibatasi konsumsinya.
Desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN)
Berdasarkan informasi dari https://cekbansos.kemensos.go.id/ yang bersumber dari Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), desil adalah kelompok kesejahteraan keluarga yang diukur berdasarkan variabel sosial ekonomi mencakup keterangan individu (pekerjaan, pendidikan), keterangan perumahan (kondisi rumah, daya listrik) dan kepemilikan aset.
Lebih lanjut, terdapat 10 desil yang masing-masing berisi 10% keluarga di Indonesia, desil 1 merupakan keluarga dengan tingkat kesejahteraan 10% terbawah sementara desil 10 merupakan keluarga dengan tingkat kesejahteraan 10% tertingi
Desil bersifat dinamis, jika tidak sesuai dapat diperbarui melalui desa/kelurahan dan dinas sosial atau melalui aplikasi cek bansos dengan menyampaikan data sesuai kondisi nyata; selanjutnya desil akan dihitung ulang oleh BPS secara periodik
Desil digunakan untuk penentuan sasaran bantuan sosial. Desil 1-4 (40% terbawah) dapat diusulkan sebagai penerima bantuan sosial PKH dan Sembako. Desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK.
Hal ini berarti penentuan desil menurut DTSEN lebih bersifat multidimensi.
Ini dipakai untuk penyaluran bantuan dan subsidi.
Hal ini juga unik karena Indonesia juga punya penentuan sasaran bantuan, seperti yang disusun oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, yang kini berintegrasi menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN).
BKKBN mengklasifikasi tahapan keluarga sejahtera menjadi 5 tingkatan, mulai dari Keluarga Pra-Sejahtera hingga Keluarga Sejahtera III Plus,
Keluarga Pra-Sejahtera yakni keluarga yang belum bisa memenuhi kebutuhan dasar minimal seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, atau ibadah.
Keluarga Sejahtera I yaitu keluarga yang sudah memenuhi kebutuhan dasar, tetapi belum memenuhi kebutuhan psikososial/sosial seperti pendidikan anak dan interaksi sosial.
Kemudian Keluarga Sejahtera II, III, dan Plus berarti kategori keluarga yang sudah mapan secara ekonomi, psikologis, hingga memiliki kepedulian sosial tinggi.
Kriteria Absolut dan Relatif
Penentuan sasaran kebijakan hendaknya berdasarkan kriteria yang absolut dan bukannya hal yang relatif.
Saat seseorang atau sebuah rumah tangga secara absolut memenuhi kriteria, maka ia berhak mendapatkan bantuan. Sebaliknya, saat ia tidak lagi memenuhi kriteria, maka tidak berhak mendapatkan bantuan.
Hal ini tidak dapat ditemui pada penentuan desil.
Desil sendiri berarti membagi populasi atau masyarakat ke dalam 10 kelas sama besar berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya pendapatan atau pengeluaran.
Misalnya, jika kita membagi masyarakat ke dalam 10 kelas sama besar berdasarkan pendapatan yang diterima oleh rumah tangga, kita bisa menentukan batas pendapatan 10% terendah, 20% terendah, 30% terendah, dan seterusnya.
Sebaliknya, kita juga bisa menentukan batas minimal pendapatan bagi rumah tangga untuk dimasukkan ke dalam kelompok 1% tertinggi, 10% tertinggi, dan seterusnya.
Dengan menetapkan batas tersebut, kita bisa menentukan seberapa banyak rumah tangga yang mendiami desil tertentu.
Misalnya berapa banyak mereka termasuk ke dalam 10% berpendapatan terendah, 20% berpendapatan terendah, 30% berpendapatan terendah, dan seterusnya.
Atau berapa banyak rumah tangga yang termasuk ke dalam 1% berpendapatan tertinggi, 10% berpendapatan tertinggi, dan seterusnya.
Posisi Relatif
Karena desil adalah pengamatan atas populasi maka perubahan seseorang relatif terhadap populasi bisa jadi mengubah atau tidak mengubah posisi kelasnya.
Contohnya, saat ada pendapatan rumah tangga tidak berubah, namun ternyata sebagian besar anggota dari populasi tersebut mengalami penurunan pendapatan, maka posisi rumah tangga tersebut secara relatif bisa jadi akan meningkat sementara rumah tangga lain akan mengalami penurunan kelas.
Sebaliknya, saat rumah tangga tersebut mengalami peningkatan pendapatan namun populasi juga mengalami peningkatan pendapatan yang lebih besar daripada proporsi peningkatan pendapatan rumah tangga tersebut, maka bisa jadi rumah tangga tersebut akan turun kelas.
Kita bisa mengamati contoh berikut:
Sebuah populasi yang terdiri dari 20 rumah tangga berdasarkan pendapatan yang diterimanya dapat dibagi menjadi 10 kelas sebagai berikut:
Dengan menggunakan MS Excel, kita bisa menentukan batas pendapatan masing-masing kelas. Maka, kita bisa melihat:
- 10% data terletak di bawah nilai 19.
- 20% data terletak di bawah nilai 28
- 30% data terletak di bawah nilai 37
- dan seterusnya.
Dengan kata lain:
- 10% rumah tangga berpendapatan terendah memiliki pendapatan di bawah 19.
- 20% rumah tangga berpendapatan terendah memiliki pendapatan di bawah 28.
- 30% rumah tangga berpendapatan terendah memiliki pendapatan di bawah 37.
- dan seterusnya.
Atau sebaliknya, 10% rumah tangga berpendapatan tertinggi memiliki pendapatan minimal 91, sampai maksimal 100. Kemudian 20% rumah tangga berpendapatan tertinggi memiliki pendapatan minimal 82, sampai maksimal 100.
Kita bisa menghitung jumlah rumah tangga yang mendiami tiap desil:
- Jumlah rumah tangga yang berpendapatan 10% terendah (= memiliki pendapatan di bawah 19) adalah 2.
- Jumlah rumah tangga yang berpendapatan 20% terendah (= memiliki pendapatan di bawah 28) adalah 4.
- Jumlah rumah tangga yang berpendapatan 30% terendah (= memiliki pendapatan di bawah 37) adalah 6.
- dan seterusnya.
Pada kondisi berikutnya, sebagian besar rumah tangga mengalami perubahan pendapatan:
Terlihat sebagian besar rumah tangga mengalami penurunan pendapatan:
- 10% rumah tangga berpendapatan terendah sekarang memiliki pendapatan di bawah 10.
- 20% rumah tangga berpendapatan terendah sekarang memiliki pendapatan di bawah 20.
- 30% rumah tangga berpendapatan terendah sekarang memiliki pendapatan di bawah 30.
- dan seterusnya.
Jumlah rumah tangga yang mendiami tiap desil sekarang adalah:
- Jumlah rumah tangga yang berpendapatan 10% terendah (= memiliki pendapatan di bawah 10) adalah 3.
- Jumlah rumah tangga yang berpendapatan 20% terendah (= memiliki pendapatan di bawah 20) adalah 5.
- Jumlah rumah tangga yang berpendapatan 30% terendah (= memiliki pendapatan di bawah 30) adalah 9.
Jumlah rumah tangga yang mendiami tiap desil akan berjumlah kurang lebih sama pada kondisi awal dan akhir.
Pada kondisi awal dan akhir, kelompok 40% berpendapatan terendah (desil 1-4) sejumlah 8 dan 9. Kelompok 40% berpendapatan menengah (desil 5-8) sebanyak 8 dan 7. Sementara kelompok 20% berpendapatan tertinggi (desil 9-10) sebanyak 4 untuk masing-masing kondisi.
Yang berbeda adalah patokan penentuan desil; pada kondisi akhir, nilai batas atas masing-masing desil lebih rendah daripada kondisi sebelumnya.
Posisi Relatif
Posisi relatif rumah tangga akan bergantung pada kinerjanya dan kinerja rumah tangga yang lain.
Sebagai contoh, ada satu rumah tangga yang memiliki pendapatan sebesar 50. Pada kondisi awal, pendapatan 50 membuat rumah tangga tersebut pada desil 5 (yakni kelompok dengan pendapatan 46-55).
Pada kondisi berikutnya, rumah tangga tersebut pada desil 6 (pendapatan 40-50).
Hal ini berarti meski rumah tangga tersebut memiliki kinerja yang tetap (pendapatan tetap 50) namun karena sebagian besar rumah tangga lain mengalami penurunan kinerja (= penurunan pendapatan) maka posisi relatif rumah tangga tersebut akan mengalami kenaikan.
Implikasi
Desil tidak bisa dijadikan penentuan keputusan agar rumah tangga terlibat atau tidak terlibat pada suatu kebijakan. Seharusnya keputusan ini didasarkan pada kriteria yang lebih absolut dan bukannya relatif seperti perhitungan desil.
Desil hendaknya harus menjadi sumber informasi profil atas populasi sehingga bermanfaat bagi pengambilan kebijakan yang lebih luas.
Contohnya dalam dunia pendidikan, sekolah yang didominasi oleh siswa/siswi dari rumah tangga desil 1-5 perlu mendapat intervensi yang berbeda dibanding sekolah yang didominasi oleh siswa/siswi dari rumah tangga desil 9-10. Contoh lain, bantuan biaya pendidikan di perguruan tinggi hendaknya diarahkan bagi mahasiswa desil 1-4 dan bukannya desil atas.
Dalam dunia ketenagakerjaan, subsidi upah akan lebih efektif jika diberikan ke pekerja dari desil rendah.
Hal ini berarti kebijakan akan selalu diberikan karena desil berarti akan selalu ada pembagian antara kelas bawah, menengah, dan atas.
Penutup
Desil lebih tepat digunakan sebagai alat untuk memetakan distribusi dan menentukan sasaran kebijakan secara populasi.
Penggunaan desil menjadi informasi tentang posisi relatif individu atau rumah tangga dalam distribusi, bukan penentu label secara absolut (TS).



