Kita butuh Infrastruktur Pejalan Kaki yang Memadai
Menteri Pendidikan Sains dan Teknologi (mendiktisaintek) menyarankan warga kampus, dosen dan mahasiswa, untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi di tengah kondisi krisis global dan menggunakan sepeda ataupun berjalan kaki ke kampus (Tempo, 06/04).
Hal ini kemudian mendapat reaksi beragam dari netizen.
Konteks Indonesia yang memang bukan pejalan kaki. Lebih luas lagi, secara rata-rata orang Indonesia tergolong tidak banyak beraktivitas fisik.
Padahal aktivitas fisik ini berhubungan positif terhadap kesehatan.
Penelitian di Jurnal Nature
Penelitian berjudul "Large-scale physical activity data reveal worldwide activity inequality" yang dipublikasikan di Nature (2017) menemukan hubungan antara kesenjangan aktivitas fisik dan tingkat kesehatan.
Kesenjangan aktivitas fisik digambarkan dengan membandingkan proporsi penduduk yang beraktivitas tinggi dan beraktivitas rendah. Secara matematis, hal ini digambarkan dengan Kurva Lorenz, dimana sumbu x adalah share kumulatif pengguna dari level rendah sampai level tinggi. Kemudian sumbu y adalah share kumulatif aktivitas fisik total.
Penelitian ini menemukan bahwa kesenjangan aktivitas fisik di suatu negara dapat diasosiasikan dengan kesehatan fisik penduduknya. Lebih lanjut, kesenjangan itu adalah prediktor terbaik untuk prevalensi obesitas di suatu negara dibandingkan dengan jumlah total aktivitas fisik.
Sumber: Large-scale physical activity data reveal worldwide activity inequality
Panel a menunjukkan bahwa tingkat obesitas penduduk berkorelasi dengan rata-rata jumlah langkah harian. Sementara panel b menunjukkan ketimpangan aktivitas fisik merupakan prediktor yang lebih baik untuk menjelaskan tingkat obesitas.
Bagaimana dengan Indonesia? Penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi ketimpangan maka semakin tinggi proposi penduduk yang mengalami obesitas. Perbandingannya, ketimpangan aktivitas di Indonesia lebih rendah daripada Filipina dan India namun dengan tingkat obesitas yang juga lebih rendah dari kedua negara tersebut.
Pengamatan lebih detail pada rata-rata jumlah langkah, Indonesia tergolong rendah dan memiliki proporsi populasi yang obesitas jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain yang lebih aktif berjalan kaki.
Implikasi
Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya perencanaan perkotaan yang mendukung aktivitas fisik dan jalan kaki.
Perkotaan yang walkable akan mengurangi gender gap dalam aktivitas fisik dan penurunan kesenjangan aktivitas fisik karena penduduknya dapat beraktivitas dalam durasi yang lebih panjang dalam satu hari, dengan frekuensi lebih sering dalam satu minggu, dan dapat lebih banyak mengakomodasi berbagai profil penduduk dari segi usia, gender, dan daya tahan fisik.
Maka saran dari Mendiktisaintek di atas akan lebih efektif jika pemerintah juga sudah membangun perkotaan yang mengakomodir warganya untuk berjalan kaki dan beraktivitas fisik luar ruang.
Tanpa ada infrastruktur pejalan kaki yang memadai, himbauan tadi hanya dianggap angin lalu. Negara juga akan tetap gagal dalam membuat masyarakatnya lebih sehat secara fisik (TS).
Referensi:
https://www.tempo.co/politik/imbauan-kemendikti-ke-kampus-jalan-kaki-atau-bersepeda-2126898
Althoff, T., Sosič, R., Hicks, J. et al. Large-scale physical activity data reveal worldwide activity inequality. Nature 547, 336–339 (2017). https://doi.org/10.1038/nature23018
https://www.thejakartapost.com/life/2017/07/15/stanford-study-reveals-indonesians-laziest-walkers-in-the-world.html